You are here

KENDALA DAN STRATEGI PENERAPAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR TERPADU UNTUK PENCAPAIAN MDG’s DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI INDONESIA

I NYOMAN SUDANA
Program Studi Teknik Sipil Universitas Bojonegoro

Abtrak

Pada tahun 2012, angka kematian bayi mencapai 11,21 per 1.000 KH, sedangkan untuk angka kematian ibu mencapai 142,61 per 100.000 KH. Faktor kematian ibu tersebut disebabkan adanya penyakit jantung, asma, kurangnya asupan gizi pada saat mengandung, faktor kemiskinan dan faktor pendidikan rendah (Buku Profil Bojonegoro, 2012). Minimnya layanan kebutuhan hidup menjadi permasalahan, tidak hanya di Bojonegoro ataupun Indonesia saja, melainkan di seluruh dunia, hingga pada tahun 2000 para pimpinan dunia berkumpul dan menandatangani Deklarasi Millenium yang berisi komitmen untuk mempercepat pembangunan manusia dan pemberantasan kemiskinan. Komitmen tersebut diterjemahkan menjadi beberapa tujuan dan target yang dikenal dengan Millenium Development Goals (MDGs).Penyediaan air bersih dan sanitasi merupakan bentuk dari tujuan yang ketujuh dari MDGs yaitu memastikan kelestarian lingkungan hidup. Selain itu, sasaran yang berkaitan dengan penyediaan air bersih dan sanitasi adalah sasaran ke sepuluh. Sasaran tersebut membahas tentang penurunan sebesar separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan pada tahun 2015 (UNDP, 2004). Dalam studi ini ditekankan pada pencapaian goals pertama, ke empat dan ke lima MDGs yaitu menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, dan menurunkan angka kematian ibu dan bayi di sub DAS bengawan Solo hilir Bojonegoro. Data yang digunakan dalam studi ini alah data sekunder dan dianalisa dengan Causal Loop Diagrams (CLD). Dari hasil analisa dapat ditarik 2 (dua) kesimpulan. Pertama Kendala yang dihadapi dalam upaya penerapan PSDAT terhadap MDGs adalah sistem pengelolaan dan pengawasan dengan paradigma bottom-up approach belum terlaksana dengan optimal. Kedua, Strategi PSDAT terhadap MDGs, menanggulangi kemiskinan dan kelaparan dapat dilakukan dengan cara mengoptimalkan PSDAT dalam aspek pertanian, transportasi, perikanan, pariwisata, industri dan pemahaman kesetaraan gender. Sedangkan untuk menurunkan kematian ibu dan bayi dapat dilakukan dengan cara mengoptimalkan PSDAT dalam aspek STBM dan pemahaman kesetaraan gender. Di mana untuk mencapai kedua tujuan tersebut dibutuhkan adanya sistem pengelolaan dan pengawasan yang optimal dengan paradigma bottom-up approach.

Kata kunci; PSDAT, MDGs,CLD,Bottom-up Approach

Documents: 

User login