You are here

Analisis Pendapatan Usaha Tempe Kedelai Studi Kasus di Desa Turirejo Kecamatan Jepon Kabupaten Blora Propinsi Jawa Tengah

Masahid 1), Fachruniza Widya Astuti 2)
Fakultas Pertanian Universitas Bojonegoro
Jl. Lettu Suyitno No.2, Bojonegoro, 62119

Abstrak

Kekurangan protein merupakan permasalahan yang sangat serius karena dapat mengakibatkan cacat fisik dan mental permanen pada anak-anak dalam masa pertumbuhan. Tempe yang semula hanya makanan tradisional kini mendunia. Masyarakat Indonesia sudah mengenal apa itu tempe. Makanan hasil fermentasi dari kedelai yang dibantu oleh kerja jamur Rhizopus oligosporus. Makanan tempe merupakan sumber protein nabati yang harganya murah, mudah dibuat dan hampir mudah di dapat di Nusantara ini. Secara teknis usaha pembuatan tempe mudah,oleh sebab itu perlu adanya ketekunan dan keseriusan untuk membuatnya. Ditinjau dari aspek pasar,produk tempe selalu terbuka dengan makin sadarnya masyarakat akan kebutuhan gizi, maka tempe menjadi salah satu prospek bisnis yang terbuka luas bagi siapapun. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Juni 2015 dengan mengambil lokasi di Desa Turirejo Kecamatan Jepon Kabupaten Blora. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah berapakah besarnya rata – rata biaya yang dikeluarkan, rata – rata produksi, rata – rata penerimaan hasil, tingkat pendapatan, tingkat efiensi usaha tempe kedelai ? Adapun tujuannya adalah untuk mengetahui bahwa usaha tempe kedelai menguntungkan dan layak (efisien). Manfaat dari penelitian ini adalah untuk menambah ilmu dan memenuhi syarat guna memeperoleh gelar kesarjanaan. Kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah tempe sebagai bahan protein hewani yang harganya relatif murah dan ekonomis, namun banyak yang belum mengetahui nilai kedelai menjadi tempe. Hipotesis dalam skripsi ini adalah diduga bahwa usaha tempe kedelai menguntungkan dan layak (efisien). Metode yang dilaksanakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah untuk penentuan daerah menggunakan pusposive sampling. Pengambilan pengrajin yang membuat tempe yaitu sebanyak 30 orang. Sedangkan data sekunder diperoleh dari kantor Desa Turirejo Kecamatan Jepon Kabupaten Blora dan Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blora juga dari instansi terkait lainnya Maka dapat disimpulkan bahwa besarnya rata – rata total biaya yang dikeluarkan dalam usaha tempe kedelai sebesar Rp.5.161.124,3 ,-. Perolehan rata – rata penerimaan sebesar Rp.10.884.000,- dari perkalian hasil produksi sebesar 27.210 biji tempe dengan harga jual tempe Rp 400,-/biji. Rata-rata pendapatan usaha tempe sebesar Rp.5.722.875,7 ,- yang diperoleh dari selisih rata – rata penerimaan sebesar Rp. 10.884.000,- dikurangi total biaya sebesar Rp.5.161.124,3 ,-.Berdasarkan hasil analisis penelitian RC – Ratio untuk usaha tempe kedelai adalah sebesar 2,11 terbukti efisien yaitu menguntungkan dan layak karena lebih besar dari 1. Perlu dilakukan penelitian optimasi penggunaan jamur dan kedelai dalam proses pembuatan tempe sehingga tingkat keuntungannya dapat dimaksimalkan.Diperlukan adanya pelatihan pelatihan yang berkenaan dengan teknologi fermentasi tempe yang efisien dan lebih higienis.Stok kedelai adalah hal yang harus dipenuhi untuk menyimpan bahan baku supaya produksi tetap berjalan tanpa terganggu stok bahan baku.Peluang pasar tempe yang prospektif ini, kiranya dapat mendorong dan memacu perajin tempe untuk lebih dapat memanfaatkan peluang tersebut.Tidak menutup kemungkinan kesempatan berusaha tempe ini mengundang orang-orang lain yang selama ini belum memahami dunia pertempean.

Documents: 

User login